Tulungagung Anak Seniman

suatu saat pasti aku bisa meraih impianku

Bencana Tanah Longsor dan Banjir Bandang Tahun 2008 di Desa Sindang Wangi Kecamatan Batarkawung Kabupaten Brebes.

Tanah Longsor

Tiga Rumah Tertimbun Tanah Longsor

di Desa Sindangwangi Kec. Bantarkawung

Kabupaten Brebes










Bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Brebes tepatnya di lokasi RT 02 RW VII dukuh Marenggeng, Desa Sidangwangi, Kecamatan BantarKawung yang terjadi pada hari Selasa tanggal 5 Pebruari 2008 telah menimbulkan kerugian yang besar, kerugian langsung dari bencana alam tersebut yaitu berupa korban jiwa, harta benda dan material yang cukup besar.
Sedangkan kerugian jangka panjang adalah berkurangnya lapisan tanah permukaan ( top soil ) yang subur.Berkurangnya atau hilangnya lapisan tanah permukaan berarti disamping mengurangi produktivitas tanah juga memproduksi material tanah yang cukup besar sehingga meningkatkan sedimentasi di hilirnya.

Faktor iklim (hujan), dapat memicu tanah yang pada saat musim kemarau terjadi rekahan-rekahan oleh hilangnya kandungan air pada tanah karena proses pengupan, maka ketika hujan tiba, air memasuki retakan tersebut yang menyebabkan tanah kembali mengembang. Pada beberapa daerah, terjadinya hujan dengan intensitas tinggi sehingga membuat kadar air tanah cepat jenuh sehingga memicu tanah mudah longsor di daerah berlereng curam, Karena air terakumulasi di dalam tanah di atas lapisan kedap pada dasar lereng memicu gerakan lateral.

Kondisi Biofisik Lokasi Bencana.

Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes masuk kedalam DAS Pemali DS berada di Sub DAS Cigunung . Luas catchment area 1.722,18 ha. Berdasarkan hasil analisa urutan DAS Prioritas tahun 2007 ternyata DAS Pemali masuk kedalam kategori Prioritas I dengan skor diatas 300 yaitu : 356 demikian juga Sub DAS Cigunung masuk kedalam kategori Prioritas I dengan skor 318. Jenis tanah Aluvial dan berada pada daerah pegunungan atau perbukitan.

Korban dan Kerugian Materi.

a. Sarana Umum.

· Jembatan Ciguyam amblas = 50 m

· Jembatan Ciulang kalung hancur total = 4 m

· Jembatan Cimarenggeng hancur = 4 m

· Jalan rusak retak dan amblas = 3 km

b. Korban luka berat = 1 orang yaitu Bapak Warim umur 36 th.

c. Korban Meninggal Dunia = 7 orang, hasil evakuasi korban telah diketemukan yaitu :

1. Didi, umur 4 tahun ditemukan di jembatan Marenggeng

2. Ruab, umur 32 tahun ditemukan disungai Cigayam

3. Ibu Saeroh ditemukan dilokasi bencana

4. Ibu Taryumi ditemukan di lokasi bencana

5. Kurni ditemukan dilokasi bencana

6. Herdi ditemukan dilokasi bencana.

d. Rumah yang hancur tertimbun tanah sebanyak 3 rumah, masing-masing milik : Herdi,Warim dan Ruswandi. Sedangkan rumah yang rusak yaitu milik : Risno, Casrito, Makrudin, Dulyono, Suryono dan Warjuri.

e. Kerugian sementara yang baru bisa dihitung sebesar Rp. 135.000.000, (rumah penduduk), sementara untuk sarana umum belum dapat diketahui.

d. Rumah yang hancur tertimbun tanah sebanyak 3 rumah, masing-masing milik : Herdi,Warim dan Ruswandi. Sedangkan rumah yang rusak yaitu milik : Risno, Casrito, Makrudin, Dulyono, Suryono dan Warjuri.

Sebab-sebab terjadinya tanah longsor dan banjir bandang di Desa Sindangwangi.

· Hujan lebat mulai jam 13.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB dengan curah hujan 102 mm (data dari PU Pengairan Kec. Bantarkawung + 8 km dari lokasi bencana).

· Tanah longsor dan banjir bandang berasal dari kawasan hutan pinus petak 40 dan 41 KRPH Cikuning BKPH Bantarkawung KPH Pekalongan Barat di Procot Slawi. Dimana areal tersebut penutupan lahnnya masih sangat kurang, ini terlihat dibawah tegakan tanaman pinus ditanami dengan jenis tanaman semusim oleh masyarakat.

· Pemukiman penduduk berada dibawah kaki bukit Marenggeng (lokasi longsor) ini sangat rawan terhadap longsor dan banjir bandang.

· Tanah dikawasan hutan petak 40 dan 41 berbatu dengan kemiringan curam sekali, sehingga mudah longsor. Untuk itu penggunaan lahan seharusnya bukan hutan produksi melainkan hutan lindung.

Keadaan Wilayah Kabupaten Brebes.

Kabupaten Brebes terletak pada posisi antara 108°41'44' - 109°11'30' BT dan 6°45'03'' - 7°20'45'' LS. Wilayah Kab. Brebes seluas 176249,116 ha yang terdiri dari 17 Kecamatan dan 282 desa meliputi 5 DAS dan 16 Sub DAS, yaitu DAS Babakan Ds, DAS Cacaban Ds, DAS Gangsa, DAS Kabuyutan Ds, DAS Pemali Ds

Keadaan jenis tanah di Kab. Brebes terdiri dari Aluvial, Grumusol, Latosol, Litosol, Podsolik, Regosol. Status penggunaan lahan berupa danau/waduk, hutan, kebun campur, kebun rakyat, pemukiman, rawa, rumput, sawah, semak belukar, sungai, tambak dan tegalan. Jenis vegetasi dominant berupa hutan tanaman, pertanian lahan kering dan sawah. Kondisi penutupan lahan cenderung sangat buruk (<10%).>

Kondisi Rawan Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Brebes.

Lokasi rawan bencana di Kab. Brebes meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Ketanggungan, Kec. Jatibarang, Kec. Banjarharjo, Kec. Losari, Kec. Bantarkawung, Kec. Salem, Kec. Bulakamba, Kec. Sirampog, Kec. Tanjung, Kec. Brebes, Kec. Songgom, Kec. Paguyangan, Kec. Bumiayu, Kec. Kersana, Kec. Larangan, Kec. Wanasari dan Kec. Tonjong (Hasil Penyusunan Peta Kerawanan DAS Wilayah BP DAS Pemali Jratun Tahun 2007). Kejadian bencana di Kab. Brebes memiliki frekuensi yang relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir (2002-2007), dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Ketanggungan, Kec. Salem dan Kec. Paguyangan yang menyebabkan korban jiwa.

Kondisi biofisik lokasi bencana untuk di Bantarkawung adalah berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan berupa sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Salem bentuk lahan berupa dataran alluvial dan lembah alluvial, jenis tanah latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, tegalan, kebun campur, sawah dan pemukiman, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Paguyangan bentuk lahan berupa dataran, kipas lahar dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah dominan alluvial dengan sedikit latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, sawah, pemukiman dengan sedikit tegalan, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 5000 mm/th.

Dari kondisi biofisik lokasi dapat dianalisis daerah kejadian banjir tersebut dapat dipengaruhi adanya banjir kiriman mengingat kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas (daerah tangkapan air) yang rusak akibat sebagian besar lokasi dijadikan tegalan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, sementara jenis tanah mengandung lempung yang menjadi pemicu terjadinya tanah longsor dan banjir bandang. Akibat dari kejadian bencana pada lokasi tersebut dapat berupa berkurangnya lapisan top soil yang subur (adanya dataran alluvial) selain kerusakan lahan maupun fasilitas umum, bahkan korban jiwa yang ditimbulkannya.

0 komentar:

Posting Komentar