Tulungagung Anak Seniman

suatu saat pasti aku bisa meraih impianku


Banjir Jakarta 2007 adalah bencana banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya sejak 1 Februari 2007 malam hari. Selain sistem drainase yang buruk, banjir berawal dari hujan lebat yang berlangsung sejak sore hari tanggal 1 Februari hingga keesokan harinya tanggal 2 Februari, ditambah banyaknya volume air 13 sungai yang melintasi Jakarta yang berasal dari Bogor-Puncak-Cianjur, dan air laut yang sedang pasang, mengakibatkan hampir 60% wilayah DKI Jakarta terendam banjir dengan kedalaman mencapai hingga 5 meter di beberapa titik lokasi banjir.

Pantauan di 11 pos pengamatan hujan milik Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menunjukkan, hujan yang terjadi pada Jumat, 2 Februari, malam lalu mencapai rata-rata 235 mm, bahkan tertinggi di stasiun pengamat Pondok Betung mencapai 340 mm. Hujan rata-rata di Jakarta yang mencapai 235 mm itu sebanding dengan periode ulang hujan 100 tahun dengan probabilitas kejadiannya 20 persen.

Banjir 2007 ini lebih luas dan lebih banyak memakan korban manusia dibandingkan bencana serupa yang melanda pada tahun 2002 dan 1996. Sedikitnya 80 orang dinyatakan tewas selama 10 hari karena terseret arus, tersengat listrik, atau sakit. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis mencapai triliunan rupiah, diperkirakan 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.

Sebab

Akibat utama banjir ini adalah curah hujan yang tinggi, dan musim hujan di Indonesia mulai bulan DesemberMaret. Pada tahun 2007, intensitas hujan mencapai puncaknya pada bulan Februari, dengan intensitas terbesar pada akhir bulan. dan berakhir bulan


Lokasi-lokasi banjir

Pengguna Kendaraan menggunakan jasa gerobak untuk menyeberangkan mereka

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menyatakan, sebagian wilayah Jakarta Barat di sekitar Kali Angke berstatus siaga satu karena tinggi air 3,75 meter dari ambang batas 3 meter. Wilayah lain berstatus siaga dua dan tiga.

Kemacetan akibat banjir juga terjadi di daerah Cipinang, Jakarta Timur. Di Jalan DI Panjaitan, sepeda motor yang tidak dapat melewati jalan itu berbalik arah dan naik ke jalan tol yang lebih tinggi.

Hujan deras juga menyebabkan tanggul jebol di Banjir Kanal Barat (BKB) persis di aliran Kali Sunter. Air meluber langsung ke perkantoran dan perumahan warga. Tanggul BKB jebol Jumat dini hari, sementara Kali Sunter baru Jumat siang. Akibat tanggul jebol, kawasan Jatibaru-Tanah Abang dan Petamburan tergenang air hingga setinggi 2 meter. Evakuasi warga di Petamburan mengalami kesulitan karena banyak permukiman terletak di antara gang sempit, bahkan tidak muat untuk dilewati perahu karet.

Jalan Kampung Melayu Besar di Jakarta Timur tidak bisa dilewati kendaraan, tetapi warga menyewakan gerobak untuk mengangkut pengendara dan kendaraan roda dua. Sebagian besar Jakarta Utara, mulai dari Marunda, Rorotan, Koja, Kelapa Gading, hingga ke barat, yakni Sunter, Tanjung Priok, Pademangan, Angke, Pluit, dan Kapuk pun terendam banjir. Tinggi genangan bervariasi, 30 sentimeter hingga 1 meter.

Jl Raya Kembangan, Jakarta Barat Digenangi air setinggi lutut orang dewasa hingga lalu lintas yang setiap hari macet dan ramai pada saat itu menjadi sepi dan gelap gulita di malam hari. Hanya kendaraan dengan roda besar, gerobak dan delman yang mampu melewati wilayah itu. Listrik padam selama 3 hari. Air Baru surut pada hari ke empat (Selasa).

Korban

Hingga tanggal 8 Februari 2007, menurut data Polda Metro Jaya jumlah korban meninggal akibat banjir di Jakarta, Depok, Tangerang, dan Bekasi mencapai 48 orang; dan di Bogor sebanyak 7 orang.

Pada tanggal 9 Februari 2007 meningkat menjadi 66 orang, sebagaimana dicatat Kantor Berita Antara: Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (Bakornas PB) menyatakan sebanyak 66 orang meninggal akibat bencana banjir yang terjadi di tiga provinsi, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Pada tanggal 10 Februari jumlah korban meningkat menjadi 80 orang. Jumlah ini mencakup korban di tiga provinsi dengan perincian DKI Jakarta 48 orang, Jawa Barat 19 orang, dan Banten 13 orang.

Dampak dan kerugian

Sebuah taksi yang terbalik dan terendam banjir di Jakarta Selatan pada banjir Jakarta 2007.

Seluruh aktivitas di kawasan yang tergenang lumpuh. Jaringan telepon dan internet terganggu. Listrik di sejumlah kawasan yang terendam juga padam.

Puluhan ribu warga di Jakarta dan daerah sekitarnya terpaksa mengungsi di posko-posko terdekat. Sebagian lainnya hingga Jumat malam masih terjebak di dalam rumah yang sekelilingnya digenangi air hingga 2-3 meter. Mereka tidak bisa keluar untuk menyelamatkan diri karena perahu tim penolong tidak kunjung datang.

Di dalam kota, kemacetan terjadi di banyak lokasi, termasuk di Jalan Tol Dalam Kota. Genangan-genangan air di jalan hingga semeter lebih juga menyebabkan sejumlah akses dari daerah sekitar pun terganggu.

Arus banjir menggerus jalan-jalan di Jakarta dan menyebabkan berbagai kerusakan yang memperparah kemacetan. Diperkirakan sebanyak 82.150 meter persegi jalan di seluruh Jakarta rusak ringan sampai berat. Kerusakan beragam, mulai dari lubang kecil dan pengelupasan aspal sampai lubang-lubang yang cukup dalam. Kerusakan yang paling parah terjadi di Jakarta Barat, tempat jalan rusak mencapai 22.650 m², disusul Jakarta Utara (22.520 m²), Jakarta Pusat (16.670 m²), Jakarta Timur (11.090 m²). Kerusakan jalan paling ringan dialami Jakarta Timur, yang hanya menderita jalan rusak seluas 9.220 m². Untuk merehabilitasi jalan diperkirakan diperlukan dana sebesar Rp. 12 miliar.

Banjir juga membuat sebagian jalur kereta api lumpuh. Lintasan kereta api yang menuju Stasiun Tanah Abang tidak berfungsi karena jalur rel di sekitar stasiun itu digenangi air luapan Sungai Ciliwung sekitar 50 sentimeter.

Sekitar 1.500 rumah di Jakarta Timur hanyut dan rusak akibat banjir. Kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Jatinegara dan Cakung. Rumah-rumah yang hanyut terdapat di Kampung Melayu (72 rumah), Bidaracina (5), Bale Kambang (15), Cawang (14), dan Cililitan (5). Adapun rumah yang rusak terdapat di Pasar Rebo (14), Makasar (49), Kampung Melayu (681), Bidaracina (16), Cipinang Besar Selatan (50), Cipinang Besar Utara (3), Bale Kambang (42), Cawang (51), Cililitan (10), dan Cakung (485).

Kerugian di Kabupaten Bekasi diperkirakan bernilai sekitar Rp 551 miliar. Kerugian terbesar adalah kerusakan bangunan, baik rumah penduduk maupun kantor-kantor pemerintah. Selain itu jalan kabupaten sepanjang 98 kilometer turut rusak. Sedikitnya 7.400 hektar sawah terancam puso.

Penyakit

Setelah banjir penyakit infeksi saluran pernafasan, diare, dan penyakit kulit menjangkiti warga Jakarta, terutama yang berada di pengungsian. Ini disebabkan keadaan sanitasi dan cuaca yang buruk

Ditemui pula beberapa kasus demam berdarah dan leptospirosis Sebagai akibat genangan air setelah banjir.

Pasca bencana

Hingga hampir sepekan pascabanjir, 14 Februari 2007, 20 lampu lalu lintas di seluruh DKI Jakarta masih tidak berfungsi. Matinya lampu lalu lintas menyebabkan arus kendaraan di beberapa kawasan terganggu dan menimbulkan kemacetan. Di Jakarta Pusat lalu lintas di beberapa perempatan tidak dipandu lampu lalu lintas. Di kawasan Roxy, misalnya, lampu lalu lintas tidak berfungsi. Akibatnya, kemacetan terjadi sepanjang pagi hingga menjelang sore. Situasi serupa tampak di kawasan Kramat Bunder.

Banjir susulan

Hujan deras sejak Selasa pagi, 13 Februari, di Depok dan sebagian wilayah Jakarta Selatan menyebabkan air kembali menggenangi sebagian rumah-rumah warga yang baru saja kering dari terpaan banjir pekan sebelumnya. Hujan tersebut menyebabkan Kali Krukut yang melintasi kawasan Kemang dan Petogogan, Jakarta Selatan meluap.

Luapan itu meluas dan menggenangi rumah-rumah warga di perkampungan tersebut hingga sebatas lutut orang dewasa. Kontur tanah perkampungan yang menjorok rendah ke arah sungai menyebabkan wilayah itu mudah sekali terbanjiri luapan air dari sungai. Di kawasan Kemang, tepatnya di Kelurahan Bangka, air menggenangi sekitar seratusan rumah petak di belakang deretan kafe-kafe elit di Jalan Kemang Raya. Semakin mendekati Kali Krukut, air sudah memasuki bagian dalam rumah hingga sebetis. Banjir besar pekan lalu telah menerpa kampung tersebut hingga ketinggian dua meter.

Banjir serupa juga kembali menimpa warga Perumahan Pondok Payung Mas, Kelurahan Cipayung, Kecamatan Ciputat, Tangerang, Banten.

Hujan yang turun pada hari Sabtu 17 Februari menyebabkan sebanyak 2.761 warga Jakarta dari 612 kepala keluarga (KK), terpaksa mengungsi kembali karena rumah mereka tergenang air. Genangan ini terjadi di beberapa pemukiman di Pancoran, Kebayoran Baru, Jatinegara, dan Kramat Jati. Ketinggian genangan berkisar antara 40-120 cm.

Komentar pihak berwenang

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menanggapi kritikan dengan mengatakan bahwa banjir ini adalah fenomena alam,dan merupakan banjir lima tahunan. Sutiyoso menganggap pemerintah sudah berusaha maksimal menangani banjir. Banjir besar sebelumnya terjadi di tahun 1996 dan 2002 yang berarti interval pertamanya adalah enam tahun.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie berkomentar bahwa para korban banjir "masih dapat tertawa" dan peristiwa banjir ini hanya dibesar-besarkan media "seolah-olah dunia mau kiamat"sehingga ia dikritik para korban dan anggota DPR.Padahal kenyataan di lapangan memperlihatkan bahwa banyak korban banjir yang bahkan tidak mampu berkomentar akibat dari tekanan stress serta buruknya kondisi hidup di tempat-tempat pengungsian.

Daerah lain

Banjir akibat luapan sungai Citarum yang terjadi awal Februari 2007 telah menggenangi 17.000 hektar sawah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,7 miliar. Banjir yang menggenangi 25 dari 30 kecamatan di Karawang diperparah dengan jebolnya tanggul Sungai Citarum. Tanggul yang jebol ada di Kaceot I dan II, Tangkil, serta saluran induk Tarung Utara. Hingga 10 Februari, ada lima kecamatan yang masih dianggap rawan banjir, yakni Pakisjaya, Batujaya, Rengasdengklok, Jayakerta, dan Tirtajaya. Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Karawang mencatat, sawah yang terendam banjir tersebar di 22 kecamatan. Ketinggian genangan bervariasi antara 20 hingga 70 sentimeter.

Banjir juga hampir sepekan merendam sawah dan permukiman di Subang dan Indramayu yang masih termasuk wilayah pantai utara Jawa Barat. Setidaknya 18.488 hektar sawah dipastikan rusak. Berdasarkan pantauan, di Kabupaten Subang, kerusakan terluas terjadi di Kecamatan Pamanukan (2.101 ha), Pusakanegara (1.275,5 ha), dan Legon Kulon (2.792 ha), sedangkan di Kabupaten Indramayu banjir menggenangi areal sawah di Kecamatan Kandanghaur.

Bencana Tanah Longsor dan Banjir Bandang Tahun 2008 di Desa Sindang Wangi Kecamatan Batarkawung Kabupaten Brebes.

Tanah Longsor

Tiga Rumah Tertimbun Tanah Longsor

di Desa Sindangwangi Kec. Bantarkawung

Kabupaten Brebes










Bencana tanah longsor dan banjir bandang di Kabupaten Brebes tepatnya di lokasi RT 02 RW VII dukuh Marenggeng, Desa Sidangwangi, Kecamatan BantarKawung yang terjadi pada hari Selasa tanggal 5 Pebruari 2008 telah menimbulkan kerugian yang besar, kerugian langsung dari bencana alam tersebut yaitu berupa korban jiwa, harta benda dan material yang cukup besar.
Sedangkan kerugian jangka panjang adalah berkurangnya lapisan tanah permukaan ( top soil ) yang subur.Berkurangnya atau hilangnya lapisan tanah permukaan berarti disamping mengurangi produktivitas tanah juga memproduksi material tanah yang cukup besar sehingga meningkatkan sedimentasi di hilirnya.

Faktor iklim (hujan), dapat memicu tanah yang pada saat musim kemarau terjadi rekahan-rekahan oleh hilangnya kandungan air pada tanah karena proses pengupan, maka ketika hujan tiba, air memasuki retakan tersebut yang menyebabkan tanah kembali mengembang. Pada beberapa daerah, terjadinya hujan dengan intensitas tinggi sehingga membuat kadar air tanah cepat jenuh sehingga memicu tanah mudah longsor di daerah berlereng curam, Karena air terakumulasi di dalam tanah di atas lapisan kedap pada dasar lereng memicu gerakan lateral.

Kondisi Biofisik Lokasi Bencana.

Desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes masuk kedalam DAS Pemali DS berada di Sub DAS Cigunung . Luas catchment area 1.722,18 ha. Berdasarkan hasil analisa urutan DAS Prioritas tahun 2007 ternyata DAS Pemali masuk kedalam kategori Prioritas I dengan skor diatas 300 yaitu : 356 demikian juga Sub DAS Cigunung masuk kedalam kategori Prioritas I dengan skor 318. Jenis tanah Aluvial dan berada pada daerah pegunungan atau perbukitan.

Korban dan Kerugian Materi.

a. Sarana Umum.

· Jembatan Ciguyam amblas = 50 m

· Jembatan Ciulang kalung hancur total = 4 m

· Jembatan Cimarenggeng hancur = 4 m

· Jalan rusak retak dan amblas = 3 km

b. Korban luka berat = 1 orang yaitu Bapak Warim umur 36 th.

c. Korban Meninggal Dunia = 7 orang, hasil evakuasi korban telah diketemukan yaitu :

1. Didi, umur 4 tahun ditemukan di jembatan Marenggeng

2. Ruab, umur 32 tahun ditemukan disungai Cigayam

3. Ibu Saeroh ditemukan dilokasi bencana

4. Ibu Taryumi ditemukan di lokasi bencana

5. Kurni ditemukan dilokasi bencana

6. Herdi ditemukan dilokasi bencana.

d. Rumah yang hancur tertimbun tanah sebanyak 3 rumah, masing-masing milik : Herdi,Warim dan Ruswandi. Sedangkan rumah yang rusak yaitu milik : Risno, Casrito, Makrudin, Dulyono, Suryono dan Warjuri.

e. Kerugian sementara yang baru bisa dihitung sebesar Rp. 135.000.000, (rumah penduduk), sementara untuk sarana umum belum dapat diketahui.

d. Rumah yang hancur tertimbun tanah sebanyak 3 rumah, masing-masing milik : Herdi,Warim dan Ruswandi. Sedangkan rumah yang rusak yaitu milik : Risno, Casrito, Makrudin, Dulyono, Suryono dan Warjuri.

Sebab-sebab terjadinya tanah longsor dan banjir bandang di Desa Sindangwangi.

· Hujan lebat mulai jam 13.00 WIB sampai dengan jam 15.00 WIB dengan curah hujan 102 mm (data dari PU Pengairan Kec. Bantarkawung + 8 km dari lokasi bencana).

· Tanah longsor dan banjir bandang berasal dari kawasan hutan pinus petak 40 dan 41 KRPH Cikuning BKPH Bantarkawung KPH Pekalongan Barat di Procot Slawi. Dimana areal tersebut penutupan lahnnya masih sangat kurang, ini terlihat dibawah tegakan tanaman pinus ditanami dengan jenis tanaman semusim oleh masyarakat.

· Pemukiman penduduk berada dibawah kaki bukit Marenggeng (lokasi longsor) ini sangat rawan terhadap longsor dan banjir bandang.

· Tanah dikawasan hutan petak 40 dan 41 berbatu dengan kemiringan curam sekali, sehingga mudah longsor. Untuk itu penggunaan lahan seharusnya bukan hutan produksi melainkan hutan lindung.

Keadaan Wilayah Kabupaten Brebes.

Kabupaten Brebes terletak pada posisi antara 108°41'44' - 109°11'30' BT dan 6°45'03'' - 7°20'45'' LS. Wilayah Kab. Brebes seluas 176249,116 ha yang terdiri dari 17 Kecamatan dan 282 desa meliputi 5 DAS dan 16 Sub DAS, yaitu DAS Babakan Ds, DAS Cacaban Ds, DAS Gangsa, DAS Kabuyutan Ds, DAS Pemali Ds

Keadaan jenis tanah di Kab. Brebes terdiri dari Aluvial, Grumusol, Latosol, Litosol, Podsolik, Regosol. Status penggunaan lahan berupa danau/waduk, hutan, kebun campur, kebun rakyat, pemukiman, rawa, rumput, sawah, semak belukar, sungai, tambak dan tegalan. Jenis vegetasi dominant berupa hutan tanaman, pertanian lahan kering dan sawah. Kondisi penutupan lahan cenderung sangat buruk (<10%).>

Kondisi Rawan Banjir dan Tanah Longsor di Kabupaten Brebes.

Lokasi rawan bencana di Kab. Brebes meliputi beberapa wilayah kecamatan yaitu Kec. Ketanggungan, Kec. Jatibarang, Kec. Banjarharjo, Kec. Losari, Kec. Bantarkawung, Kec. Salem, Kec. Bulakamba, Kec. Sirampog, Kec. Tanjung, Kec. Brebes, Kec. Songgom, Kec. Paguyangan, Kec. Bumiayu, Kec. Kersana, Kec. Larangan, Kec. Wanasari dan Kec. Tonjong (Hasil Penyusunan Peta Kerawanan DAS Wilayah BP DAS Pemali Jratun Tahun 2007). Kejadian bencana di Kab. Brebes memiliki frekuensi yang relatif sama antara kejadian banjir dan tanah longsor pada kejadian 5 tahun terakhir (2002-2007), dengan korban cukup besar terjadi pada Kec. Ketanggungan, Kec. Salem dan Kec. Paguyangan yang menyebabkan korban jiwa.

Kondisi biofisik lokasi bencana untuk di Bantarkawung adalah berupa dataran alluvial, jenis tanah alluvial, penggunaan lahan berupa sawah dan pemukiman, dengan tingkat kelerengan landai (0 – 8%) dan curah hujan 1500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Salem bentuk lahan berupa dataran alluvial dan lembah alluvial, jenis tanah latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, tegalan, kebun campur, sawah dan pemukiman, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 3500 mm/th. Untuk Kec. Paguyangan bentuk lahan berupa dataran, kipas lahar dan pegunungan/perbukitan, jenis tanah dominan alluvial dengan sedikit latosol dan grumusol, penggunaan lahan hutan, sawah, pemukiman dengan sedikit tegalan, tingkat kelerengan bervariasi dari landai (0 – 8%) sampai sangat curam (>45%), dan curah hujan 2500 – 5000 mm/th.

Dari kondisi biofisik lokasi dapat dianalisis daerah kejadian banjir tersebut dapat dipengaruhi adanya banjir kiriman mengingat kelerengan yang curam, penggunaan lahan bagian atas (daerah tangkapan air) yang rusak akibat sebagian besar lokasi dijadikan tegalan, ditambah dengan curah hujan yang tinggi, sementara jenis tanah mengandung lempung yang menjadi pemicu terjadinya tanah longsor dan banjir bandang. Akibat dari kejadian bencana pada lokasi tersebut dapat berupa berkurangnya lapisan top soil yang subur (adanya dataran alluvial) selain kerusakan lahan maupun fasilitas umum, bahkan korban jiwa yang ditimbulkannya.


Gempa bumi Yogyakarta Mei 2006 adalah peristiwa gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter[1].


Korban

Korban tewas menurut laporan terakhir dari Departemen Sosial Republik Indonesia pada 1 Juni 2006 pukul 07:00 WIB, berjumlah 6.234 orang[2] dengan rincian: Yogyakarta 165 jiwa, Kulon Progo 26 jiwa, Gunung Kidul 69 jiwa, Sleman 326 jiwa, Klaten 1.668 jiwa, Magelang 3 jiwa, Boyolali 3 jiwa, Purworejo 5 jiwa, Sukoharjo 1 jiwa dan korban terbanyak di Bantul 3.968 jiwa. Sementara korban luka berat sebanyak 33.231 jiwa dan 12.917 lainnya menderita luka ringan. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini rubuh.

Lokasi dan kerusakan yang diakibatkan


Lokasi gempa

Lokasi gempa menurut Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia terjadi di koordinat 8,007° LS dan 110,286° BT pada kedalaman 17,1 km. Sedangkan menurut BMG, posisi episenter gempa terletak di koordinat 8,26° LS dan 110,31° BT pada kedalaman 33 km.itu di release sesaat terjadi gempa. Setelah data dari berbagai Stasiun yang dipunyai jejaring BMG dan dilakukan perhitungan, update terakhir BMG menentukan pusat gempa berada di 8.03 LS dan 110,32 BT(update ke tiga) pada kedalaman 11,3 Km dan kekuatan 5.9 SR Mb (Magnitude Body) atau setara 6.3 SR Mw (Magnitude Moment).USGS memberikan koordinat 7,977° LS dan 110,318 BT pada kedalaman 35 km. Hasil yang berbeda tersebut dikarenakan metode dan peralatan yang digunakan berbeda-beda.

Secara umum posisi gempa berada sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami. Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya.

Gempa susulan

70% rumah di kecamatan Jetis rata dengan tanah

Gempa susulan terjadi beberapa kali seperti pada pukul 06:10 WIB, 08:15 WIB dan 11:22 WIB. Gempa bumi tersebut mengakibatkan banyak rumah dan gedung perkantoran yang rubuh, rusaknya instalasi listrik dan komunikasi. Bahkan 7 hari sesudah gempa, banyak lokasi di Bantul yang belum teraliri listrik. Gempa bumi juga mengakibatkan Bandara Adi Sutjipto ditutup sehubungan dengan gangguan komunikasi, kerusakan bangunan dan keretakan pada landas pacu, sehingga untuk sementara transportasi udara dialihkan ke Bandara Achmad Yani Semarang dan Bandara Adisumarmo Solo.

Seorang lelaki di antara puing-puing rumahnya

Gedung-gedung yang rusak parah

  • Mall Shapir Square mengalami kerusakan parah di lantai 4 dan 5 yang tembok depan Mall lantai tersebut roboh hingga berlubang dan menimpa teras Mall yang sebagian ikut roboh.
  • Mall Ambaruko Plaza mengalami kerusakan tidak terlalu parah. Beberapa bagian tembok terlihat retak-retak dan terkelupas.
  • GOR Universitas Ahmad Dahlan mengalami kerusakan parah. Atap GOR roboh dan hanya tersisa tembok di sisi-sisinya.
  • STIE Jl. Parangtritis kerusakan sangat parah.
  • ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km.6,5 kerusakan sangat parah.

Situs kuno dan lokasi wisata yang rusak

  • Candi Prambanan mengalami kerusakan yang cukup parah dan ditutup sementara untuk diteliti lagi tingkat kerusakannya. Kerusakan yang dialami candi prambanan kebanyakan adalah runtuhnya bagian-bagian gunungan candi dan rusaknya beberapa batuan yang menyusun candi
  • Makam Imogiri juga mengalami kerusakan yang cukup parah. Beberapa kuburan di Imogiri amblas, lantai-lantai retak dan amblas, sebagian tembok dan bangunan makam yang runtuh, juga hiasan-hiasan seperti keramik yang pecah.
  • Salah satu bangsal di Kraton Yogyakarta, yaitu bangsal Trajumas yang menjadi simbol keadilan ambruk.
  • Candi Borobudur yang terletak tak jauh dari lokasi gempa tak mengalami kerusakan berarti
  • Obyek Wisata Kasongan mengalami kerusakan parah saperti Gapura Kasongan yang patah di kiri dan kanan gapura dan ruko-ruko kerajinan keramik yang sebagian besar rusak berat bahkan roboh.


Sebab dan peristiwa sejenis


Letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng utama dunia yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia dan lempeng Pasifik serta berada di posisi Ring of fire menjadikan Indonesia kerap kali diterpa bencana gempa bumi dan letusan gunung berapi. Sebelumnya gempa terjadi di Sumatra pada 28 Maret 2005 menewaskan 361 orang serta gempa bumi dan tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004 yang menewaskan 129.498 orang dan 37.606 lainnya hilang.

Meskipun pada saat bersamaan Gunung Merapi yang juga berada di sekitar daerah tersebut sedang meletus, namun para pakar menyatakan kedua peristiwa ini tidak saling berhubungan sebagai sebuah sebab-akibat. Peningkatan aktivitas di gunung api tersebut tidak berhubungan dengan kejadian gempa. Hal ini ditunjukkan oleh tidak terdapatnya anomali aktivitas yang mencolok sesaat setelah gempa.

Penanganan dan bantuan

Setelah peristiwa tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera memerintahkan Panglima TNI Marsekal TNI Djoko Soeyanto untuk mengerahkan pasukan di sekitar Yogyakarta dan sekitarnya untuk melakukan langkah cepat tanggap darurat. Rombongan presiden sendiri langsung terbang pada sorenya dan menginap malam itu juga di Yogyakarta.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan beberapa negara sudah menyatakan komitmen bantuan antara lain Jepang, Inggris, Malaysia, Singapura, Prancis serta UNICEF.

Berbagai negara telah menawarkan bantuan, di antaranya adalah Britania Raya menyumbang sebanyak 5,6 juta dolar AS, Australia 3 juta dolar Australia, RRC 2 juta dolar AS, Amerika Serikat 2,5 juta dollar AS, Uni Eropa 3 juta euro, Kanada 2 juta dolar Kanada dan Belanda 1 juta euro. Sementara Jepang dan UNICEF menawarkan berbagai bantuan langsung. Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Merah, OXFAM dan UNICEF telah memberikan sejumlah tenda dan perbekalan darurat kepada para korban. Jepang, Singapura dan Malaysia diinformasikan akan mengirimkan tim ke wilayah bencana.

Sementara itu dari Vatikan, Paus Benediktus XVI, Sabtu, 27 Mei saat sedang mengadakan lawatan ke Polandia, menyampaikan duka cita mendalam kepada korban gempa bumi di Yogyakarta dan meminta agar regu penyelamat terus melakukan upaya pertolongan. Pernyataan duka cita disampaikan Paus melalui telegram kepada Sekretarisnya Kardinal Angelo Sodano.

Dari dalam negeri Palang Merah Indonesia memberikan respon yang cepat melalui cabang-cabangnya di tingkat kota/kabupaten terdekat. Mereka melakukan tindakan-tindakan pertolongan darurat; salah satunya dengan mendirikan Rumah Sakit Lapangan di Lapangan Dwi Windu di Bantul.

Tidak kalah pentingnya adalah dinamika dan empati masyarakat Yogyakarta yang membantu ke wilayah bencana. Bantuan ini terus berlangsung sampai tahap rehabilitasi dan rekontruksi dicanangkan. Sebagian besar sivitas akademika berbagai universitas juga mendirikan posko bantuan kemanusiaan. Pusat studi berbagai universitas terlibat dalam dinamika penanggulangan bencana ini. Antara lain Pusat Studi Mitigasi Bencana ITB Bandung, Pusat Studi Manajemen Bencana UPN Veteran Yogyakarta, Pusat Studi Bencana Alam UGM, CEEDED Universitas Islam Indonesia.